Oleh: Doris Debby Cintya
Kriteria Ketunasan Minimal, atau yang sering disingkat KKM ternyata sangat berpengaruh pada sistem pembelajaran siswa. Mengapa??? Karena mau tidak mau siswa harus dituntut agar dapat mendapatkan nilai minimal sesuai KKM yang sudah menjadi ketentuan sekolah itu sendiri. Jika tidak terpaksa siswa yang mendapatkan nilai kurang dari KKM itu harus mengikuti ulangan remidial kembali agar dapat memperbaiki nilainya.
Nah, KKM pastinya dibuat oleh pemerintah kan? So, Apa sih dasarnya pemerintah memberlakukan Kriteria Ketuntasan Minimal kepada setiap sekolah. KKM diberlakukan oleh sekolah atas dasar :
1. Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
tanggal 8 Juli 2003
2. Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,
tanggal 16 Mei 2006
3. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI nomor 22 tahun 2006 tentang Standar
Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah tanggal 2 Juni 2006
4. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia nomor 23 tahun 2006
Tanggal 2 Juni 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan
Pendidikan Dasar dan Menengah.
5. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia nomor 20 tahun 2007
Tentang Standar Penilaian.
Namun, mari kita kembali kedalam dunia pendidikan sesungguhnya, Dimana guru harus memberi materi pelajaran kepada siswa dan siswa harus dapat menerima materi yang diberikan oleh gurunya dengan baik. Bukan hanya menerima dengan baik, seharusnya siswa dapat mengerti akan apa yang sedang diajarkan oleh gurunya. Seorang guru pasti akan mengadakan test atau ulangan untuk menguji siswa-siswinya. Test/ulangan dilakukan untuk mengukur kemampuan siswa-siswinya pada mata pelajaran masing-masing. KKM yang diberlakukan oleh ketentuan-ketentuan sekolah masing-masing, sangat berpengaruh dalam proses belajar siswa. Buktinya?
• Ketentuan Kriteria Minimal yang harus dicapai oleh siswa tergantung dari sekolah sendiri. Siswa pasti akan merasa terbebani apabila KKM yang ditentukan oleh sekolah itu sangat besar. Mau tidak mau siswa harus melampaui KKM yang telah ditentukan tersebut agar ia dapat dinyatakan lulus dalam mata pelajaran. Sekarang yang menjadi permasalahan adalah apakah siswa yang lulus dalam KKM betul-betul mengerti akan materi tersebut? Apakah hanya nilai yang mengatur segalanya? Apakah para siswa belajar semata-mata hanya untuk mencari dan meraih nilai? Absolutely NO!!! Nilai bukan Tuhan guys..!!
• Sejak diberlakukannya KKM di sekolah-sekolah mungkin kita jarang bahkan tidak pernah melihat nilai rapor dibawah 5, sangat berbeda dengan nilai rapor orang tua kita. Coba kita lihat-lihat rapor kedua orang tua kita, mungkin sangat jarang kita temukan angka 9 pada rapor zaman orang tua kita. Mengapa? Karena pada masa itu KKM belum diberlakukan, jadi gurupun memberi nilai apa adanya, sesuai dengan kemampuan anak tersebut. Walaupun nilai rapor kecil, tetap kemampuannya bisa diandalkan. Tidak seperti sekarang rapor tertata rapi dengan nilai yang mengagumkan, tapi kemampuan NONSENSE!!!
• Siswa sekarang diharuskan untuk mencapai nilai minimal. Bagaimana bila memang siswa tersebut memang tidak mampu dalam mata pelajaran tersebut, otomatis ia harus melaksanakan ualangan remedial. Namun, bagaimana jika setelah ia remedial, ia masih belum mampu untuk mencapai KKM sekolah tersebut? Apa ia harus mengulang dan mengulang? Ok, sekarang apabila ia harus mengulang dan mengulang pada satu mata pelajaran tersebut, bagaimana dengan mata pelajaran lainnya? Apakah ia harus meninggalkan ke-13 mata pelajaran yang lai, hanya untuk memenuhi KKM satu mata
pelajaran tersebut? Saya rasa tidak mungkin. Ia harus memikirkan pelajaran-pelajaran lain, tidak hanya berusaha untuk lulus KKM pada satu mata pelajaran. Kita harus mengakui bahwa itu tidaklah mudah.
• Bagaimana cara siswa tersebut agar ia dapat lulus, atau mendapatkan nilai diatas KKM? Gampang saja, Ia pasti akan menjadi mesin photocopy, sehari sebelum ulangan diadakan. Pastinya siswa tersebut akan membuat contekan agar Ia dapat lulus dan tidak mengulang kembali. Tidak sedikit pula siswa yang mampu atau pandai mendapat pengaruh yang negative dari sekitarnya. Ia melihat teman-teman yang lain mencontek dan mendapatkan nilai yang lebih dari dia, pasti ia akan merasa jengkel dan akhirnya ia pun ikut mencontek. Menghalalkan segala cara hanya untuk mendapatkan lulus melampaui KKM.
• Nah.. Ketika mendekati akhir semester,seorang guru pasti akan mendapatkan masalah apabila siswa tidak dapat lulus dari KKM. Tidak mungkin dia menuliskan nilai apa adanya didalam buku rapor. Pastinya, manipulasi datapun terpaksa dilakukan. Jika tidak pasti orang tua siswa akan mendatangi gurumata pelajaran itu dan mengomelinya habis-habisan. Bayangkan, bahkan seorang gurupun harus melakukan hal demikian? Parah bukan???
Kalau seperti itu, dimanakah letak proses belajar sesungguhnya? Sepertinya tidak ada. Memang KKM yang ditentukan oleh sekolah-sekolah mempunyai fungsi yang baik, namun dibalik itu semua sangat bertolak belakang sekali dengan prinsib yang harusnya diterapkan oleh sekolah itu.
Belajar merupakan Proses, proses itu harus dilakukan dengan baik, agar kita dapat menghadapi dunia luar yang kejam dan penuh dengan permasalahan agar kita tidak sempoyongan dalam menghadapi masalah-masalah yang nantinya harus kita hadapi didunia luar sana. Apabila generasi bangsa sekarang dididik hanya untuk meraih nilai, bukan untuk meraih ilmu, APA KATA DUNIA??
So.. Tanpa KKM kualitas dan mutu pendidikan pasti akan tetap meningkat kan.., karena sesungguhnya siswa tidak membutuhkan nilai, tapi mereka butuh pendidikan, ilmu, pengetahuan yang nantinya akan beruna untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Kalau siswa hanya dituntut untuk melampaui KKM???? Ga Banget dehh…
Kriteria Ketunasan Minimal, atau yang sering disingkat KKM ternyata sangat berpengaruh pada sistem pembelajaran siswa. Mengapa??? Karena mau tidak mau siswa harus dituntut agar dapat mendapatkan nilai minimal sesuai KKM yang sudah menjadi ketentuan sekolah itu sendiri. Jika tidak terpaksa siswa yang mendapatkan nilai kurang dari KKM itu harus mengikuti ulangan remidial kembali agar dapat memperbaiki nilainya.
Nah, KKM pastinya dibuat oleh pemerintah kan? So, Apa sih dasarnya pemerintah memberlakukan Kriteria Ketuntasan Minimal kepada setiap sekolah. KKM diberlakukan oleh sekolah atas dasar :
1. Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
tanggal 8 Juli 2003
2. Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,
tanggal 16 Mei 2006
3. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI nomor 22 tahun 2006 tentang Standar
Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah tanggal 2 Juni 2006
4. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia nomor 23 tahun 2006
Tanggal 2 Juni 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan
Pendidikan Dasar dan Menengah.
5. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia nomor 20 tahun 2007
Tentang Standar Penilaian.
KKM diberlakukan bukan karena tujuan yang tidak jelas, lalu apa tujuan pemerintah memberlakukan KKM. KKM dibuat untuk meningkatkan kualitas, mutu pendidikan yang nantinya berguna untuk digunakan sebagai acuan oleh masing-masing guru mata pelajaraan.
Namun, mari kita kembali kedalam dunia pendidikan sesungguhnya, Dimana guru harus memberi materi pelajaran kepada siswa dan siswa harus dapat menerima materi yang diberikan oleh gurunya dengan baik. Bukan hanya menerima dengan baik, seharusnya siswa dapat mengerti akan apa yang sedang diajarkan oleh gurunya. Seorang guru pasti akan mengadakan test atau ulangan untuk menguji siswa-siswinya. Test/ulangan dilakukan untuk mengukur kemampuan siswa-siswinya pada mata pelajaran masing-masing. KKM yang diberlakukan oleh ketentuan-ketentuan sekolah masing-masing, sangat berpengaruh dalam proses belajar siswa. Buktinya?
• Ketentuan Kriteria Minimal yang harus dicapai oleh siswa tergantung dari sekolah sendiri. Siswa pasti akan merasa terbebani apabila KKM yang ditentukan oleh sekolah itu sangat besar. Mau tidak mau siswa harus melampaui KKM yang telah ditentukan tersebut agar ia dapat dinyatakan lulus dalam mata pelajaran. Sekarang yang menjadi permasalahan adalah apakah siswa yang lulus dalam KKM betul-betul mengerti akan materi tersebut? Apakah hanya nilai yang mengatur segalanya? Apakah para siswa belajar semata-mata hanya untuk mencari dan meraih nilai? Absolutely NO!!! Nilai bukan Tuhan guys..!!
• Sejak diberlakukannya KKM di sekolah-sekolah mungkin kita jarang bahkan tidak pernah melihat nilai rapor dibawah 5, sangat berbeda dengan nilai rapor orang tua kita. Coba kita lihat-lihat rapor kedua orang tua kita, mungkin sangat jarang kita temukan angka 9 pada rapor zaman orang tua kita. Mengapa? Karena pada masa itu KKM belum diberlakukan, jadi gurupun memberi nilai apa adanya, sesuai dengan kemampuan anak tersebut. Walaupun nilai rapor kecil, tetap kemampuannya bisa diandalkan. Tidak seperti sekarang rapor tertata rapi dengan nilai yang mengagumkan, tapi kemampuan NONSENSE!!!
• Siswa sekarang diharuskan untuk mencapai nilai minimal. Bagaimana bila memang siswa tersebut memang tidak mampu dalam mata pelajaran tersebut, otomatis ia harus melaksanakan ualangan remedial. Namun, bagaimana jika setelah ia remedial, ia masih belum mampu untuk mencapai KKM sekolah tersebut? Apa ia harus mengulang dan mengulang? Ok, sekarang apabila ia harus mengulang dan mengulang pada satu mata pelajaran tersebut, bagaimana dengan mata pelajaran lainnya? Apakah ia harus meninggalkan ke-13 mata pelajaran yang lai, hanya untuk memenuhi KKM satu mata
pelajaran tersebut? Saya rasa tidak mungkin. Ia harus memikirkan pelajaran-pelajaran lain, tidak hanya berusaha untuk lulus KKM pada satu mata pelajaran. Kita harus mengakui bahwa itu tidaklah mudah.
• Bagaimana cara siswa tersebut agar ia dapat lulus, atau mendapatkan nilai diatas KKM? Gampang saja, Ia pasti akan menjadi mesin photocopy, sehari sebelum ulangan diadakan. Pastinya siswa tersebut akan membuat contekan agar Ia dapat lulus dan tidak mengulang kembali. Tidak sedikit pula siswa yang mampu atau pandai mendapat pengaruh yang negative dari sekitarnya. Ia melihat teman-teman yang lain mencontek dan mendapatkan nilai yang lebih dari dia, pasti ia akan merasa jengkel dan akhirnya ia pun ikut mencontek. Menghalalkan segala cara hanya untuk mendapatkan lulus melampaui KKM.
• Nah.. Ketika mendekati akhir semester,seorang guru pasti akan mendapatkan masalah apabila siswa tidak dapat lulus dari KKM. Tidak mungkin dia menuliskan nilai apa adanya didalam buku rapor. Pastinya, manipulasi datapun terpaksa dilakukan. Jika tidak pasti orang tua siswa akan mendatangi gurumata pelajaran itu dan mengomelinya habis-habisan. Bayangkan, bahkan seorang gurupun harus melakukan hal demikian? Parah bukan???
Kalau seperti itu, dimanakah letak proses belajar sesungguhnya? Sepertinya tidak ada. Memang KKM yang ditentukan oleh sekolah-sekolah mempunyai fungsi yang baik, namun dibalik itu semua sangat bertolak belakang sekali dengan prinsib yang harusnya diterapkan oleh sekolah itu.
Belajar merupakan Proses, proses itu harus dilakukan dengan baik, agar kita dapat menghadapi dunia luar yang kejam dan penuh dengan permasalahan agar kita tidak sempoyongan dalam menghadapi masalah-masalah yang nantinya harus kita hadapi didunia luar sana. Apabila generasi bangsa sekarang dididik hanya untuk meraih nilai, bukan untuk meraih ilmu, APA KATA DUNIA??
So.. Tanpa KKM kualitas dan mutu pendidikan pasti akan tetap meningkat kan.., karena sesungguhnya siswa tidak membutuhkan nilai, tapi mereka butuh pendidikan, ilmu, pengetahuan yang nantinya akan beruna untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Kalau siswa hanya dituntut untuk melampaui KKM???? Ga Banget dehh…
Aku juga kurang begitu suka sama kebijakan pemerintah untuk memberlakukan KKM disetiap sekolahnya.
BalasHapusSoalnya, siswa jadi fokus untuk mengejar KKM doank, buat apa kan, Kita belajar buat cari ilmu bukan buat ngejar nilai doank..
Kalo cuma untuk ngejar KKM doank sih. Gampang, Dengan menghalalkan segala cara juga bisa kan.. Tapi ngejar ilmu yang susah mahh..
aku setuju dan gak setuju si dengan danya kkm.
BalasHapusemang penting danya kkm buat motivasi kita untuk lebih giat belajar
tapi...dengan adanya kkm kadang beberapa siswa menganggap kalo kita sekolah itu untuk mencari nilaI bukan mencari ilmu...
dan akhirnnya banyak siswa yang ngehalalin semua cara buat dapet nilai yang besar tapi mereka tidak punya ilmu buat nanti di masa depan.
saya setuju apabila KKM itu tidak menjadikan siswa dan guru hanya untuk mengejar nilai semata tanpa mementingkan makna dan manfaat adanya KKM. mudah-mudahan dengan adanya KKM dalam dunia pendidikan, dapat meningkatkan kualitas belajar siswa tanpa harus mengejar nilai semata. semoga bacaan ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi saya sendiri, terima kasih .... :)
BalasHapusSaya juga merasakan separti apa yang anda rasakan itu. Terkadang geram dengan keadaan pendidikan di negara kita ini dimana para birokrat jadi turut campur dengan apa yang seharusnya menjadi wewenang guru, sehingga guru terpaksa melakukan hal yang tidak sesuai dengan hati nurani. Contohnya ya dengan kkm ini. Kepala daerah ingin kkm tinggi agar semua anak didik lulus, lalu kebijakan itu turun ke kepala dinas, pengawas, kepala sekolah akhirnya gurulah yang menderita. Masa depan anak jadi korban, orangtuanya dan mereka sendiri tidak tahu kemampuan mereka yang sesungguhnya di bidang apa, karena semua nilai tinggi.
BalasHapus